x 
Cart empty

ST Media Agro

 

 

Hubungi Kami


 

0274 744 0999

081 744 0999

0813 9228 0999

 

 

 

 

Sanggar Tani media Agro Merapi di didirikan oleh Bp Sumedi Purbo

Mengembangkan usaha aneka jenis jamur sejak tahun 1990 membuat Bapak Muhammad Sumedi Purbo (38) dikenal sebagai salah seorang pionir budidaya jamur di Yogyakarta. Keyakinan yang kuat tentang peluang agribisnis dan agro industri tentang jamur membuat Sumedi muda kala itu bertekad mewujudkan harapannya untuk memasyarakatkan jamur sebagai sebuah potensi yang belum tergarap secara optimal. Bertempat tinggal di Cangkringan, Sleman, Pak Medi begitu beliau biasa disapa merasa masih banyak potensi agro di lereng Gunung Merapi yang bisa digarap selain salak, kopi, melinjo, apokat, sayuran, dll. Alhasil, kelesuan dalam bisnis budidaya jamur waktu itu memberikan inisiatif bagi Pak Medi untuk mendirikan Sanggar Tani “Media Agro Merapi” pada 15 Januari 2000.

Menempati lahan di bantaran Kali Kuning, ST. Media Agro Merapi dikenal sebagai pusat pengembangan, pelatihan, dan magang khususnya dalam cara berbudidaya jamur bagi petani yang berorientasi ke arah agribisnis dan agro industri yang lebih baik dan tepat guna. “Sanggar tani ini dibangun dalam kerangka untuk melihat bahwa jamur memiliki potensi yang luar biasa, baik untuk Jogja maupun potensi nasional, kemudian misinya bagaimana mewujudkan apa yang menjadi potensi tersebut untuk memberdayaan masyarakat khususnya petani melalui sebuah usaha agribisnis,” terang Pak Medi ketika ditemui tim bisnisUKM Kamis (14/7). Hal itu dikarenakan banyak petani jamur yang ada di wilayahnya waktu itu mulai pesimis dengan usaha budidaya jamur. Sehingga, berdirinya sanggar tani tersebut sebagai upaya memberikan contoh dan meyakinkan masyarakat bahwa jamur masih memiliki prospek usaha yang luar biasa.

Tidak butuh waktu lama bagi Pak Medi membuktikan kepada masyarakat bahwa jamur masih bisa dikembangkan dengan inovasi produk yang beraneka macam. Sampai saat ini, ST. Media Agro Merapi mampu menghasilkan bibit jamur/benih jamur sendiri dengan teknik kultur jaringan (produksi benih F1/benih awal, benih induk/F2, benih tebar/F3, dan benih siap tanam/F4), produk jamur tiram (jamur tiram putih, jamur tiram orange, jamur tiram kuning, jamur tiram cokelat,dll), cara budidaya jamur (jamur Shiitake, jamur Ling Zhie, jamur Tiram, dan jamur Kuping), teknik pengeringan (jamur Tiram, jamur Shiitake, jamur Ling Zhie, dan jamur Kuping), serta aneka olahan jamur (jamur crispy, sirup, teh, dan kapsul jamur). Beragam inovasi produksi jamur ST. Media Agro Merapi tersebut banyak dijadikan acuan dan inspirasi masyarakat untuk mengembangkan inovasi produk serupa.

Bibit Jamur Media Agro Merapi 200x150 Mengembangkan Agribisnis Jamur Bersama ST. Media Agro Merapi

Selain pengembangan produk, ST. Media Agro Merapi juga melakukan kegiatan yang bersifat jasa. “Program itu berupa kegiatan penelitian dan pengembangan, dimana kami bekerjasama dengan LIPI, serta dalam bentuk pelatihan dan magang yang bertujuan untuk memberikan pembelajaran dan pelatihan dalam bidang agribisnis jamur dengan cara yang baik dan benar,” jelas Pak Medi. Sebagai seorang ‘pakar’ senior dalam bidang agribisnis dan agro industri jamur, Pak Medi sering diundang untuk mengisi pelatihan di berbagai tempat. “Sampai saat ini, hampir seluruh wilayah di tanah air dari Sabang sampai Merauke pernah saya datangi untuk memberikan pelatihan budidaya jamur, selain bisa membagi ilmu, program tersebut juga membuat saya memiliki banyak saudara di berbagai tempat,” imbuh Pak Medi sambil tersenyum.

Sanggar Tani Media Agro Merapi saat ini memiliki 17 tenaga produksi yang rata-rata berasal dari warga sekitar. Tenaga tersebut terbagi menjadi beberapa bagian yang rutin berproduksi setiap harinya. Menurut Pak Medi, kapasitas produksi baglog ST. Media Agro Merapi saat ini mencapai 2.400 buah baglog jamur per harinya. “Kapasitas tersebut akan segera kami tingkatkan menjadi 8.500 buah baglog, tinggal menunggu eksekusinya,” tambahnya.

Produksi Baglog Media Agro Merapi 200x150 Mengembangkan Agribisnis Jamur Bersama ST. Media Agro Merapi

Berkat pengalaman segudangnya tersebut, Pak Medi saat ini dipercaya sebagai ketua Asosiasi Jamur Jogjakarta (AJJ). Dengan organisasi tersebut, Pak Medi mampu ‘merangkul’ petani-petani jamur yang ada di wilayah DI.Yogyakarta untuk bersama-sama mengembangkan usaha jamur dan beragam inovasinya. “Jumlah anggota kami (AJJ) saat ini kurang lebih berjumlah 700 orang, yang rata-rata sebagai petani mandiri, kendati menggunakan nama Asosiasi Jamur Jogjakarta (AJJ), namun banyak anggota kami yang berasal dari luar Jogja,” imbuh Pak Medi.

Bapak Sumedi Purbo 200x150 Mengembangkan Agribisnis Jamur Bersama ST. Media Agro Merapi

Di akhir wawancaranya, Pak Medi mengutarakan harapan beliau tentang perkembangan usaha jamur secara umum. “Sekarang jamur itu sudah direspon luar biasa oleh masyarakat, begitu juga dengan pasar jamur yang semakin jelas, dan kebutuhan juga semakin meningkat, maka harapan saya itu tunggal, yaitu bagaimana kita (pelaku-pelaku jamur) bisa bersatu mewujudkan iklim kompetisi yang sehat baik itu di skala lokal maupun skala nasional,” jelasnya sembari menutup wawancara pada siang hari itu.

Tim liputan bisnisUKM

 

 

 

 

 


Designed by IndonesiaHosting.net